Dialog di suatu sore (16 Mei 2017)

"Dik, kamu apa sudah mantap mau ambil akuntansi atau STAN?"
"Nggak tau.." jawaban yang singkat namun menjelaskan banyak hal bahwa dia belum mantap, dia juga belum yakin dengan pilihannya, bahkan juga masih bingung
Apa pertanyaanku terlalu dini untuk menentukan tujuan studi selanjutnya? (Mengingat dia masih kelas 10 SMA)
Kurasa pertanyaanku memang dini untuk diajukan tapi aku yakin itu penting untuk membangun motivasi dan visi untuk masa depannya.
Tidak ada kata terlalu dini untuk menyadari dan membangun visi masa depan seorang anak.
Visi yang terbangun akan melecut dan menguatkan motivasi untuk mencapainya
Realistis dengan kemampuan? Tentu penting tapi juga yang tidak kalah penting adalah kemauan dan tekad kuat. Dan itu bisa dipacu oleh visi.
Coba camkan seorang yang punga kemampuan tapi kurang kemauan akan sulit mencapai visinya.
Sebaliknya sekalipun kemampuan kurang namun dengan kuatnya kemauan maka visi akan dapat tercapai sekalipun dengan kerja keras.
Mudahnya sebagai ilustrasi seorang anak pintar namun malas bisa dikalahkan dengan seorang anak biasa saja namun rajin.
Dasar itu jugalah yang aku gunakan sebagai logika untuk memotivasi putraku. Termasuk contoh pengalaman dari si sulung.
Putra pertamaku punya cita-cita sejak SD ingin menjadi seorang dokter. Biasalah anak-anak kupikir pasti ditanya cita-cita jawabannya sekitar dokter atau insinyur (main stream banget ya...) meskipun sekarang banyak pilihan cita-cita (yang dulu dianggap aneh) misal mau jadi artis, mau jadi pengacara, atau photografer...dan lain-lain.
Namun seiring berjalannya waktu ternyata cita-cita itu semakin matang bahkan sampai pada pemilihan ekstra kurikuler sekolahpun si sulung memilih yang berbau kedokteran yaitu PMR (Palang Merah Remaja), "untuk latihan keterampilan" katanya.
Setelah lulus SMA dia tentunya mengikuti jalur SBMPTN dan memilih FKU setelah tidak lolos pada jalur SNMPTN. Gagal di SBMPTN, masih ada jalur lain yaitu Mandiri di beberapa PTN. Dari semua rangkaian tes tersebut akhirnya si sulung lolos di jalur Mandiri namun bukan direrima di FKU seperti cita-citanya, dia diterima di FEB jurusan Akuntansi di PTN ternama di Surabaya....tidak terlalu mengecewakan bagi kami sebagai orangtua sebenarnya. Karena Akuntansi termasuk rangking pilihan kedua dengan peminat yang banyak setelah FKU.
Namun sangat mengecewakan bagi si sulung.
Seiring berjalannya waktu kami harus membesarkan hati si sulung bahwa diterimanya dia di Akuntansi adalah kehendak dan rencanaNya yang adalah rahasia Allah.
Prestasinya di Akuntansi juga moncer dengan IP 3,68 dan TOEFL 568 si sulung masuk kelas khusus English Class.
Namun masuk semester kedua dia mulai galau lagi dan ingin mencoba tes lagi SBMPTN atau Mandiri untuk masuk FKU.
Ya kami sebagai orangtua tetap support dengan membekali les-les kembali mengingat pelajaran berbau IPA sudah lama tidak disentuh sejak kuliah Akuntansi. Waktu dan jadwal yang tidak memungkinkan untuk bimbingan belajar akhirnya hanya cukup dengan les privat beberapa mata pelajaran saja ditambah belajar melalui online.
Pendek kata akhirnya si sulung berhasil diterima di FKU di PTN ternama di Surabaya, PTN yang sama dengan Akuntansinya.
Mengapa aku cerita tentang si sulung? Karena ada 2 benang merah yang ingin kusampaikan, ada yang negatif dan positif agar bisa menjadi pelajaran.
Pertama tentang benang merah positif bahwa dia konsisten dengan visinya yang menguatkan motivasinya untuk mencapai cita-citanya dengan kerja ekstra keras.
Kedua tentang benang merah negatif, sebagai ABG laki-laki masih sangat suka main game sehingga banyak waktu tersita untuk bermain game online dibandingkan belajar. Sekalipun game hanya dimainkan saat weekend dan di rumah dalam pengawasan orang tua. Sehingga akibat usahanya yang kurang karena banyak waktu terbuang karena bermain maka dia harus kehilangan waktu 1 tahun untuk mengulang tes masuk FKU.
Namun di balik semua itu ada sesuatu yang belakangan mampu menyadarkan si sulung akan kesalahan dan hikmah dari semua yang dialaminya termasuk "ujian" yang dihadapi saat harus menerima kenyataan harus menjalani kuliah di bidang yang bukan cita-citanya.
Dua benang merah itulah yang kemudian kujadikan pelajaran bagi putraku nomor 2 untuk mulai konsisten dalam usaha dan motivasi untuk mencapai cita-citanya.

Comments

Popular posts from this blog

Celebration of Love by Air Supply

Galau