Menghadapi ABG baru

This is the real story. Pengalaman menghadapi si sulung saat memasuki masa awal SMA cukup membuat surprise. Bagaimana tidak seorang anak penurut yang tidak banyak bicara dan santun berubah sekali bicaranya (untungnya perilaku tidak ada yang melenceng). Yang kumaksud berubah bicaranya adalah kalau diajak bicara tidak segera menjawab tapi begitu bicara diulang-ulang dia menjawab dengan nada tinggi. Kekagetan melihat perubahan gaya si sulung akhirnya kuhubungkan dengan usia dan masa puber yang dialami si sulung.
Untungnya sekarang saat dia sudah kuliah menjadi semakin dewasa dan empatinya begitu besar. Saat dia jarang pulang karena banyaknya tugas kuliah dan kegiatan organisasi membuat terasa sekali kerinduan kehadirannya.
Bagaimana menghadapinya saat dia mengalami masa puber tadi ingin juga kubagi. Bukan karena sudah ahli...karena akupun dalam proses untuk mengantar anak-anak mencapai cita-cita dan sukses. Tapi karena akupun mendapat jalan keluar karena share dengan teman-teman, maka semoga cerita ini bisa bermanfaat.
Ya...saat aku masih terheran-heran dengan perubahan perilaku si sulung aku cerita dengan teman yang juga memiliki anak seusia si sulung dan juga anak yang di atas usia si sulung alias sudah melewati masa puber. Ternyata...memang perilaku seperti itu lumrah terjadi saat anak memasuki masa puber jadi nggak usah kaget...oh lega rasanya berarti perilaku si sulung masih dalam kategori normal.
Namun sekalipun normal bagaimana aku harus menghadapi karena bagaimanapun jawaban yang "mbleyer-mbleyer" saat diajak bicara tentu membuat risih telinga dan malu kalau didengar orang lain, rasanya kurang sopan.
Salah satu keuntungan yang kumiliki dari sifat si sulung adalah sekalipun tidak banyak bicara dia termasuk anak yang amu terbuka saat diajak berkomunikasi...termasuk soal percintaan hahaha.
Akhirnya setelah mencari-cari referensi akhirnya aku memilih jalan komunikasi persuasif dengan si sulung.
Komunikasi persuasif ini tentu berbeda dan spesifik untuk setiap orang karean sangat tergantung pada individu masing-masing.
Nah sekarang saat si sulung sudah melewati masa itu, aku harus menghadapi kondisi yang sama dengan anakku yang kedua.
Untuk yang ini akan kuposting berikutnya ya karena sifat yang berbeda dari kedua anakku ini.
Masih ditambah lagi dengan masalah so bungsu yang mogok sekolah☺

Comments

Popular posts from this blog

Celebration of Love by Air Supply

Galau

Dialog di suatu sore (16 Mei 2017)